Cara Memilih Sepatu untuk Hiking Pertama Kali

Sepatu hiking diletakkan di jalur berbatu pegunungan saat pagi hari

Sepatu yang salah bikin kaki lecet di kilometer kedua, dan perjalanan sisanya jadi siksaan. Cara memilih sepatu untuk hiking pertama kali bertumpu pada medan yang akan dilewati, bahan sepatu, dan ukuran yang pas. Tidak perlu langsung membeli model termahal.

Mulai dari medan, bukan dari merek

Pertanyaan pertama yang bikin bingung: sepatu gunung atau sepatu lari biasa? Jawabannya tergantung jalur. Setiap jalur punya karakter permukaan yang berbeda, dan sepatu yang cocok di satu jalur bisa jadi salah di jalur lain.

Jalur berupa jalan tanah lebar dengan tanjakan landai masih bisa dilewati sepatu lari trail atau sepatu lari biasa yang solnya masih tebal. Jalur berbatu, akar melintang, atau tanah lembap menuntut sol karet dengan pola kembangan lebih dalam dan pelindung kaki depan agar jari tidak terbentur batu.

Kalau rencanamu masuk ke jalur pendakian ramah pemula di Pulau Jawa, perhatikan deskripsi jalurnya. Beberapa jalur terkenal curam sejak pos awal, sementara jalur lain memberi pemanasan panjang sebelum tanjakan. Semakin curam dan semakin sering melewati bebatuan, semakin kamu butuh sepatu dengan batang lebih tinggi untuk menahan pergelangan kaki.

Kenali tiga jenis sepatu hiking

Pasar sepatu outdoor biasanya membagi produk ke tiga kelompok berdasarkan tinggi batang dan bobot.

  • Low cut: batang pendek, paling ringan dan fleksibel. Cocok untuk jalur pendek, jalur tanah, atau medan ringan. Kelemahannya, pergelangan kaki tidak tertopang saat melangkah di batu tidak stabil.
  • Mid cut: batang setinggi mata kaki. Ini pilihan paling seimbang untuk pemula yang belum tahu persis karakter jalurnya. Topangan lebih baik dari low cut, bobot masih nyaman untuk pemakaian sehari penuh.
  • High cut: batang tinggi menutup pergelangan. Dipakai untuk medan berat, beban bawaan besar, atau jalur berbatu teknis. Bobotnya paling berat dan butuh waktu adaptasi sebelum dipakai di pendakian sungguhan.

Pemula yang masih bingung hampir selalu aman memilih mid cut. Sepatu ini tidak terlalu berat untuk jalur ringan, tapi cukup melindungi saat kondisi jalur memburuk.

Bahan upper: kulit, sintetis, atau campuran

Bagian atas sepatu (upper) menentukan seberapa tahan air, seberapa cepat kering, dan seberapa lama sepatu bertahan.

Kulit asli kuat, tahan lama, dan relatif tahan air, tapi berat dan butuh waktu panjang untuk mengikuti bentuk kaki. Kulit juga lambat kering kalau benar-benar terendam. Bahan sintetis lebih ringan, cepat kering, dan harganya lebih ramah, tapi daya tahannya biasanya lebih pendek.

Banyak sepatu kelas menengah memakai kombinasi keduanya: panel sintetis berpori untuk sirkulasi udara, ditambah lapisan kulit tipis di area yang sering tergesek. Untuk pemakaian di Indonesia yang lembap, bahan sintetis atau campuran sering lebih praktis karena mengering lebih cepat setelah hujan atau setelah menyeberangi sungai kecil.

Soal membran tahan air, pertimbangkan lagi. Membran seperti ini menahan air masuk dari luar, tetapi juga menahan keringat keluar. Kalau jalurmu sering kering dan cuaca panas, sepatu tanpa membran bisa lebih nyaman. Kalau jalur sering berlumpur dan basah, membran berguna.

Cara mengukur ukuran yang benar

Ukuran sepatu hiking biasanya berbeda dari ukuran sepatu harian. Kaki membengkak setelah beberapa jam berjalan, dan tumit bisa bergeser saat turunan curam.

  1. Ukur kaki di sore atau malam hari, saat kaki sudah agak membesar setelah dipakai beraktivitas.
  2. Pakai kaus kaki hiking yang sama seperti yang akan dipakai saat mendaki. Kaus kaki tebal bisa menambah setengah hingga satu nomor.
  3. Sisakan ruang sekitar satu jari ibu di depan ujung sepatu. Jari kaki harus bisa bergerak bebas, tidak menempel ke ujung.
  4. Uji tumit: berjalan menanjak dan menurun di dalam toko. Tumit harus terangkat sedikit saat menanjak, tetapi tidak sampai mengangkat kaki dari sol saat menurun.
  5. Kalau ragu antara dua nomor, ambil yang lebih besar.

Jangan membeli sepatu hanya karena nomornya sama dengan sepatu harianmu. Beberapa merek membuat cetakan lebih sempit atau lebih lebar, jadi selalu coba langsung. Kalau toko menyediakan tanjakan uji, manfaatkan.

Sol, grip, dan bantalan

Sol adalah bagian yang paling menentukan kenyamanan di jalur. Kembangan (tread) yang dalam akan mencengkeram tanah dan batu dengan lebih baik. Karet yang terlalu keras licin di batu basah, sementara karet yang terlalu lunak cepat aus.

Bantalan di bawah kaki membantu meredam hentakan saat turunan panjang. Untuk pemula, bantalan sedang biasanya lebih nyaman daripada bantalan tipis yang kaku. Cek juga bagian dalam sol: pelat keras di bawah kaki depan melindungi dari batu tajam, dan ini berguna di jalur berbatu.

Bobot sepatu berpengaruh pada stamina. Sepatu yang lebih berat menambah kerja otot kaki, apalagi kalau kamu masih baru. Untuk pendakian pertama, pilih sepatu seringan mungkin asal tetap memberi topangan yang kamu butuh.

Uji sebelum hari pendakian

Sepatu baru sebaiknya tidak langsung dipakai mendaki gunung. Pakai dulu saat jalan santai, belanja, atau berjalan di taman selama beberapa jam agar bahan upper melunak dan mengikuti bentuk kaki.

Kalau mau mencoba pakai di jalur ringan lebih dulu, cek pilihan di cara menikmati wisata pegunungan tanpa mendaki. Jalur-jalur ini cocok untuk memecah sepatu sebelum dipakai ke medan yang lebih menantang.

Bawa plester atau perekat anti lecet saat pendakian pertama. Titik rawan lecet biasanya di tumit dan sisi jempol. Kalau terasa ada yang menggesek, segera berhenti dan tempel plester sebelum lecet membesar. Kalau kamu baru pertama kali naik gunung, tips mendaki gunung untuk pemula bisa melengkapi persiapan sepatumu.

Kesalahan umum pemula saat membeli

  • Membeli sepatu berdasarkan merek terkenal tanpa mencoba ukurannya.
  • Memilih nomor yang sama dengan sepatu harian, padahal kaus kaki hiking lebih tebal.
  • Mengabaikan berat sepatu, lalu kelelahan di separuh perjalanan.
  • Langsung memakai sepatu baru ke jalur panjang tanpa masa adaptasi.
  • Membeli sepatu bekas yang solnya sudah aus tanpa memeriksa kondisi grip.

Ringkasan

Medan menentukan jenis sepatu. Jalur ringan cukup dengan low cut atau sepatu lari trail. Jalur berbatu dan curam lebih aman dengan mid cut atau high cut. Pilih bahan yang sesuai iklim jalur, pastikan ukuran menyisakan ruang di ujung depan, dan uji sepatu sebelum hari pendakian. Modal satu sepatu yang pas membuat pendakian pertama jauh lebih menyenangkan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah sepatu lari biasa bisa dipakai untuk hiking pemula?

Bisa untuk jalur tanah yang relatif rata dan pendek. Namun sepatu lari tidak melindungi pergelangan kaki dan solnya kurang mencengkeram di medan berbatu atau berlumpur. Untuk pendakian gunung, sepatu hiking tetap pilihan lebih aman.

Berapa lama sepatu hiking harus diuji sebelum dipakai mendaki?

Idealnya dipakai beberapa jam, beberapa kali, di permukaan keras seperti jalanan atau taman. Tujuannya melunakkan bahan dan memastikan tidak ada titik yang menggesek kaki. Setelah itu baru dipakai ke jalur sebenarnya.

Apakah sepatu hiking harus tahan air?

Tidak selalu. Sepatu tahan air berguna di jalur basah dan berlumpur, tetapi lebih panas dan lama kering jika air masuk. Untuk jalur kering di cuaca panas, sepatu berpori tanpa membran bisa lebih nyaman.