Menjaga suhu tubuh saat mendaki di udara dingin bergantung pada tiga hal: pakaian berlapis yang bisa dilepas-pakai, ritme jalan yang tidak membuat tubuh terlalu berkeringat, dan asupan makanan serta minuman yang cukup. Ketiganya saling terkait. Satu lapisan yang salah bisa membuat kamu kedinginan di puncak meski sudah berjalan berjam-jam.
Suhu di jalur pegunungan turun sekitar 6 derajat Celsius setiap kenaikan 1.000 meter, dan angin mempercepat hilangnya panas dari kulit. Kondisi ini membuat tubuh bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu inti. Berikut cara mengelolanya tanpa harus membeli peralatan mahal.
Kenapa Tubuh Cepat Dingin di Jalur Pegunungan
Saat mendaki, tubuh menghasilkan panas dari otot yang bekerja. Begitu kamu berhenti berjalan, produksi panas itu turun drastis, tetapi keringat di pakaian tetap ada. Keringat yang menempel menjadi konduktor yang menyerap panas tubuh, sehingga kamu merasa lebih dingin dibanding sebelum berhenti.
Angin menambah masalah. Di punggungan terbuka, angin memindahkan lapisan udara hangat di sekitar kulit dan mempercepat pendinginan. Inilah sebabnya istirahat di tempat terbuka tanpa jaket terasa jauh lebih menusuk daripada istirahat di balik pohon atau batu besar.
Kelembapan juga berperan. Pakaian berbahan katun menyerap air dan sulit kering. Setelah basah oleh keringat atau hujan, katun menahan air di dekat kulit dan membuat tubuh kehilangan panas lebih cepat. Bahan sintetis atau wol merino jauh lebih baik karena tetap menghangatkan meski lembap.
Susunan Lapisan Pakaian untuk Suhu Berubah
Prinsip lapisan bukan menumpuk pakaian sebanyak mungkin, tetapi memilih bahan yang tepat dan urutan yang benar. Bawa tiga lapisan utama dan tambahkan satu lapisan cadangan untuk berhenti lama.
- Lapisan dasar: kaus lengan panjang dari bahan sintetis atau wol merino yang menyerap keringat dan cepat kering. Hindari katun.
- Lapisan tengah: jaket fleece atau jaket bulu sintetis untuk menahan panas tubuh. Lapisan ini dilepas saat kamu mulai berkeringat.
- Lapisan luar: jaket tahan angin dan air yang memiliki ventilasi, dipakai saat berhenti atau saat angin kencang.
- Cadangan: satu kaus kering yang disimpan dalam kantong kedap air, khusus dipakai saat berhenti lama atau setelah hujan.
Atur lapisan dengan cara melepas sebelum berkeringat dan memakai sebelum kedinginan. Kalau kamu menunggu sampai basah kuyup, pakaian tidak akan kering di jalur. Untuk perencanaan bekal dan perlengkapan secara umum, lihat panduan cara merencanakan hiking pertama kali.
Mengatur Ritme Jalan agar Tidak Terlalu Berkeringat
Pendaki yang bergerak cepat tanpa jeda sering sampai di puncak dengan pakaian basah. Setelah itu mereka menggigil karena tidak ada lagi sumber panas. Sebaliknya, berjalan terlalu lambat membuat tubuh tidak cukup menghangatkan diri di awal perjalanan.
Patokan yang sering dipakai: jalan dengan kecepatan yang masih memungkinkan kamu berbicara tanpa terengah-engah. Jika napas sudah tersengal terus-menerus, turunkan kecepatan atau berhenti sebentar. Naikkan lagi setelah napas kembali normal.
Saat berhenti istirahat, segera pakai lapisan luar sebelum tubuh mendingin. Jeda lebih dari lima menit di tempat berangin memerlukan jaket, topi, dan sarung tangan. Siapkan semuanya di tempat yang mudah dijangkau, bukan di dasar tas, agar tidak malas memakainya.
Asupan Makan dan Minum selama Pendakian
Tubuh menggunakan makanan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan panas, dan proses pencernaan membutuhkan air. Minum terlalu sedikit membuat aliran darah ke kulit dan otot berkurang. Di udara dingin, rasa haus sering tidak muncul, sehingga pendaki berisiko dehidrasi tanpa sadar.
Bawa minuman dalam wadah yang tahan panas agar air tidak membeku, dan sediakan camilan berkalori padat seperti kacang, cokelat, atau buah kering. Makan sedikit-sedikit di setiap jeda, tidak menunggu waktu makan besar. Minuman hangat seperti teh atau kuah sup membantu menghangatkan tubuh saat istirahat panjang.
Hindari minuman beralkohol di jalur. Alkohol melebarkan pembuluh darah di kulit dan membuat tubuh terasa hangat sebentar, tetapi mempercepat hilangnya panas inti.
Bahaya Hipotermia dan Tanda yang Perlu Diwaspadai
Hipotermia terjadi ketika suhu inti tubuh turun di bawah normal. Kondisi ini tidak selalu muncul dengan menggigil hebat. Pada tahap awal, tubuh menggigil dan tangan sulit digunakan untuk pekerjaan halus seperti mengancingkan jaket atau membuka bungkus makanan.
Tanda yang perlu diperhatikan:
- Menggigil terus-menerus yang tidak berhenti meski sudah memakai jaket.
- Bicara melantur, bingung, atau sulit membuat keputusan sederhana.
- Kulit pucat dan terasa dingin saat disentuh.
- Gerakan lambat dan kaku, misalnya sulit berjalan lurus.
Jika tanda ini muncul pada diri sendiri atau teman, segera cari tempat berlindung dari angin, ganti pakaian basah dengan pakaian kering, dan beri minuman hangat jika penderita masih sadar penuh. Jangan beri minuman kepada orang yang tidak sadar atau kejang. Turunkan ketinggian jika kondisi tidak membaik. Kondisi cuaca buruk sebaiknya diprediksi sejak awal melalui cara membaca prakiraan cuaca sebelum mendaki gunung.
Perlengkapan Kecil yang Berpengaruh Besar
Topi, sarung tangan, dan kaus kaki kering sering diabaikan, padahal bagian tubuh ini paling cepat kehilangan panas. Kepala dan leher terbuka melepaskan banyak panas, terutama saat angin bertiup kencang. Sarung tangan tipis dari bahan wol atau sintetis cukup untuk sebagian besar jalur di Indonesia, tetapi bawa sarung tangan berbahan tahan angin untuk puncak terbuka.
Kaos kaki cadangan sebaiknya dibawa lebih dari satu pasang. Kaki basah membuat kamu lebih cepat kedinginan dan menambah risiko lecet. Untuk perjalanan ke lokasi pendakian yang jauh, atur waktu keberangkatan seefisien mungkin; panduan tips terbang untuk pemula membantu kamu menyiapkan perjalanan pertama dengan pesawat tanpa kerepotan.
Perbedaan bahan dan model pakaian juga memengaruhi kenyamanan di jalur ekstrem, seperti saat mendaki di kawasan dengan perbedaan suhu tajam. Menyusun itinerary pendakian gunung dengan jeda istirahat yang realistis memberi tubuh waktu menyesuaikan suhu sebelum melanjutkan perjalanan.
Ringkasan
Menjaga suhu tubuh di jalur dingin berarti mengatur lapisan pakaian, ritme jalan, dan asupan secara bersamaan. Lepas lapisan sebelum berkeringat, pakai jaket sebelum kedinginan, dan simpan satu set pakaian kering untuk keadaan darurat. Kenali tanda hipotermia lebih awal dan turunkan ketinggian jika kondisi memburuk.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah jaket tebal saja cukup untuk mendaki di udara dingin?
Tidak. Jaket tebal tanpa lapisan dalam yang menyerap keringat justru membuat tubuh lembap. Lapisan dasar dan lapisan tengah lebih menentukan kenyamanan daripada ketebalan jaket luar.
Seberapa sering sebaiknya berhenti saat mendaki di jalur dingin?
Tidak ada patokan pasti. Berhenti setiap kali napas mulai terlalu berat, tetapi jaga agar jeda tetap singkat dan langsung pakai jaket saat berhenti. Untuk istirahat makan, pilih tempat yang terlindung dari angin.
Apakah minuman hangat wajib dibawa?
Tidak wajib, tetapi membantu saat istirahat panjang. Air biasa tetap cukup asalkan diminum teratur. Yang penting adalah tidak menunggu haus untuk minum.